kabarku
Aku separuh melapuk, sesibir lebur dan sepiak retak
Dunia tempat yang lucu ya? Tempat beriang dan bersedih di satu tempat. Tempat bergelak dan berkabung di ruang waktu yang partikular. Kini, aku melihatnya dengan lebih jelas sebagai tokoh netral yang berpadu dalam cerita plural didalamnya. Aku beradu dengan rasa bergejolak dalam hati, berusaha terbiasa dan menerima sepi menjadi kawan bukan lawan.
Aku menjadi "diriku" yang mungkin 2 atau 3 tahun "diriku" yang lalu tak kenal.
Dunia tempat yang lucu ya? Manusia seenaknya bermain dengan rasa, bermain dengan hati. menjadikan bahan guyonan sedangkan lucu tak aku rasa hadirnya. hanya terpuruk makin terpuruk, hanya tersungkur makin tersungkur. Aku terbiasa membawa hangat sekarang dingin yang bisa aku tuai.
Dunia tempat yang lucu ya? ketika semua manusia menjadi beramai dan aku bersulih menjadi retak, tak berwajah dan tak sehangat biasa. apa ini memang jalannya? Aku hanya menerka dan tak paham suratan.
Aku merapuh seperti piring tua yang berumur separuh abad yang siap pecah ketika disimpan.
Akhir-akhir ini aku melihat dengan jelas, bahwa aku tak bisa menjadi aku. keadaan, perasaan dan juga waktu yang membungkam aku untuk memilih tak terjun dalam hiruk pikuk kebanyakan. Aku berubah, sosok ekstrover yang menjadi diam. sosok pembicara menjadi terhening. sosok ceria menjadi dingin.
Mungkin sakit rasa dan kehilangan jadi alibinya.
ia..
Bisa jadi tak peduli dengan keadaanku, tak acuh dengan yang kurasakan. dia lebih riang bermain dan bergumul dengan beragam manusia. aku tak apa. tak usah aku dikasihani sebab seorang. aku hanya berpegang dengan janjiku, aku tak ingin ia sakit hati. aku tak ingin aku tak ada ketika butuh dirinya. aku tak ingin berpaling pandang dan aku memilih sendiri menjadi kawan sekalipun perlahan menjadikan aku separuh melapuk, sesibir lebur dan sepiak retak dengan terasing dan sendiri jadi kebiasaan.
Biarkan, Aku hanya memikirkan dia bukan diriku.
Komentar
Posting Komentar