Tetesan deras
Semuanya berubah, kala itu tiba semuanya kan jadikan dirimu tak ada artinya. Aku sering berbuat salah kepadanya. Banyak, sampai-sampai tak tahu berapa banyak. Aku gantikan semuanya dengan kehangatan. Aku coba membuatnya nyaman. Aku berusaha membuatnya serasa didukung lahir dan batinnya. Aku telah berupaya agar sakit tak jadi tempatnya berpulang.
Tapi, makin jauh ia melangkah semakin pula aku sendirian. Api kecil yang kubuat untuk menarik perhatian dan mungkin untuk jadi alasan. Hanya menambah langkahnya pergi menghilang.
Gelak tawanya yang ku rindu, Senyumnya ketika ia mengharap kehadiranku, Marahnya ketika ku telat membalas atau tak menghubungi. Semua perlahan memudar dan pergi meninggalkan puannya.
Semalam aku berbicara pada diriku. Aku bertanya pada Aku, "Rumah mana yang nyaman bagimu?". dengan spontan aku menangis entah dari mana datang air sederas itu dan dengan lantang Aku menjawab
"Dia! rumah ternyaman dan aman bagiku saat ini hanya dia. dan akan selalu dia. Tempat aku bisa berekspresi dengan segala bentuk rupa. Tempatku bisa menjadi diriku seutuhnya. Tempatku bisa bernyanyi tanpa cela. Tempatku bisa tertidur seperti bayi dalam pelukan dan Tempatku menangis tanpa perlu malu akan sesiapa..."
tetesan itu makin deras dan mulutku kembali melanjutkan
"Tapi, sekarang tempat itu perlahan tak bisa aku singgahi lagi.. perlahan aku merasa terusir dan tersingkir. Aku sendirian, Aku coba untuk berpadu dengan sepi dan apapun rasa aneh yang belum kurasakan datang menghampiri. Aku coba terus menjadi bintang pelindung sebaik mungkin karena tetapku pegang janjiku tuk ku penuhi. Aku hanya bertahan karna tak tahu lagi kemana aku harus bermuara..."
Tadi, kulihat gelak riangnya serta senyum yang tertata rapih di antara kedua pipinya. Senang riang yang dulu aku ukir dan kini tak bisa ku sematkan lagi. Aku si pembawa pilu dan dia tlah menemukan hakikatnya sebuah kebahagiaan.
Jika suatu saat nanti letih dirimu berjalan bersamaku, bilang ya?
Karena aku akan tenang dan percaya banyak di atas tanah ini yang dapat membuat kau tersenyum serta melepas semua bebanmu. kecuali aku mungkin
Aku biarlah menjadi aku, aku yang berteman sepi tak tentu arahnya.
Komentar
Posting Komentar